Rekor! Perusahaan-Perusahaan China Raup Triliunan dari AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan China berhasil mengumpulkan US$ 11,7 miliar atau sekitar Rp 160 triliun lebih melalui IPO di Amerika Serikat (AS) tahun ini, dan menjadi yang terbesar sejak 2014.

Berdasarkan catatan Renaissance Capital, pencapaian ini menjadi tanda minat investor terhadap perusahaan China di pasar saham AS naik ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir meski ada ketegangan antara kedua negara.

Hal ini menandai jumlah modal tertinggi yang dikumpulkan sejak 2014, ketika 16 perusahaan China mengumpulkan US$ 25,7 miliar. Alibaba menyumbang sebagian besar kenaikan tahun itu sebagai IPO terbesar hingga saat ini.


Berdasarkan catatan Renaissance Capital dilansir dari CNBC International, kebanyakan IPO yang dilakukan perusahaan China di AS, termasuk perusahaan teknologi keuangan Lufax dan platform real estat online Ke. Keduanya berada di antara sepuluh penawaran umum terbesar di AS tahun ini.

Perusahaan pengiriman bahan makanan milik Walmart, yakni Dada , perusahaan rintisan kendaraan listrik Xpeng dan Li Auto dan BlueCity, pemilik aplikasi kencan LGBTQ terbesar di China, termasuk di antara daftar utama lainnya di New York tahun ini.

Antusiasme perusahaan China untuk pasar AS mencapai puncak meski tahun ini penuh gejolak dalam hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia. Selain ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah berusaha untuk mencegah modal Amerika berinvestasi di aset perusahaan China.

Pandemi virus corona juga telah memperlambat aktivitas bisnis antar negara dan menyebabkan perselisihan internasional mengenai apakah Covid-19 berasal dari China serta seberapa besar China harus disalahkan atas pandemi tersebut.

Awal tahun ini, beberapa bisnis China menunda rencana mereka untuk listing di AS karena pandemi serta terungkapnya skandal akuntansi di Luckin Coffee pada bulan April. Nasdaq mendelisting beberapa perusahaan musim panas ini, hanya sekitar satu tahun setelah perusahaan baru di China itu menjadi perusahaan pertama sejak 2000 yang mencapai penilaian US$ 3 miliar dalam waktu kurang dari 24 bulan.

Perusahaan China lainnya telah jatuh secara dramatis. Sejak terdaftar di Bursa Efek New York pada Januari, saham Phoenix Tree telah anjlok sekitar 76% karena kekhawatiran tentang kesehatan keuangan anak perusahaan Danke, sebuah perusahaan persewaan perumahan.

Phoenix Tree adalah IPO berkinerja terburuk tahun ini, kata Renaissance. Secara keseluruhan, analisis perusahaan menemukan bahwa perusahaan China yang mengumpulkan setidaknya US$ 100 juta tahun ini memiliki, rata-rata, total pengembalian sebesar 81%.

Pandemi virus korona juga telah memperlambat aktivitas bisnis lintas batas dan menyebabkan perselisihan internasional mengenai apakah Covid-19 berasal dari China serta seberapa besar China harus disalahkan atas pandemi tersebut.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)