Rupiah melemah tipis, pasar cermati devisa dan kelanjutan vaksin

Penurunan cadangan devisa tiga bulan secara beruntun dan kelanjutan kapan vaksin akan didistribusikan dan bisa digunakan untuk masyarakat, telah menahan penguatan mata uang rupiah dalam penutupan sore ini

Jakarta (ANTARA) – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore melemah tipis, seiring pelaku pasar yang mencermati perkembangan paket stimulus di Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup melemah 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.110 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.105 per dolar AS.

“Dari eksternal, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sentimen bahwa pemerintah AS kemungkinan akan menuntaskan kesepakatan stimulus baru senilai 908 miliar dolar AS,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Selasa.

Pihak berwenang di California, negara bagian terpadat di AS, pada Senin (7/12) memaksa sebagian besar penduduknya untuk menutup toko dan tinggal di rumah sehari setelah melaporkan rekor 30.000 lebih kasus baru COVID-19.

Baca juga: Rupiah awal pekan stagnan, pasar dibayangi kenaikan kasus COVID-19

Data ekonomi baru-baru ini yang menunjukkan ekonomi AS telah melambat karena stimulus fiskal sebelumnya telah mengering, telah menyoroti perlunya paket bantuan baru, dengan Jumat (11/12) dipandang sebagai tenggat waktu yang mungkin ketika ukuran pendanaan untuk pemerintah berakhir.

Sementara itu pertemuan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa kemarin sore mengalami kebuntuan sehingga dalam pertemuan tiga hari tersebut tidak menghasilkan keputusan yang diinginkan oleh pasar. Namun Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen masih ada waktu untuk menyelamatkan kesepakatan perdagangan tersebut.

Nanti malam Boris Johnson akan bertolak ke Uni Eropa untuk kembali berunding untuk permasalahan klausal krusial tentang perikanan, yang sampai saat ini masih belum ada penyesuaian pendapat.

Dari domestik, data cadangan devisa November dilaporkan mengalami penurunan sebesar 100 juta dolar AS ke 133,6 miliar dolar AS. Cadangan devisa mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir.

Baca juga: BI: Cadangan devisa akhir November 2020 tercatat 133,6 miliar dolar AS

Secara bersamaan CoronaVac, vaksin COVID-19 buatan Sinovac, tiba di Bandara Soekarno-Hatta kemarin malam dan sudah diangkut ke PT Bio Farma (Persero). Pelaksanaan vaksinasi masih harus melalui tahapan evaluasi dari BPOM guna memastikan aspek mutu dan efektivitas dan fatwa MUI untuk aspek halal.

“Penurunan cadangan devisa tiga bulan secara beruntun dan kelanjutan kapan vaksin akan didistribusikan dan bisa digunakan untuk masyarakat, telah menahan penguatan mata uang rupiah dalam penutupan sore ini,” ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.118 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.110 per dolar AS hingga Rp14.135 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.164 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya di posisi Rp14.135 per dolar AS.

Baca juga: Gubernur BI: Suku bunga acuan akan tetap rendah

Baca juga: Gubernur BI paparkan strategi agar ekonomi RI lebih mantap pada 2021

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020