Saham BRIS ‘Kerasukan’, Asing Borong Rp 73 M! Efek Apa Nih?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), nama baru hasil gabungan tiga bank syariah BUMN, menguat 7,9% pada perdagangan pukul 10.28 WIB, Jumat ini (18/12/2020) di level harga Rp 2.300/saham.

Data perdagangan mencatat saham BRIS ditransaksikan mencapai Rp 654 miliar dengan volume perdagangan 288,91 juta saham. Nilai kapitalisasi bank hasil merger PT Bank BRISyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah ini mencapai Rp 22,68 triliun.

Dalam sepekan, saham BRIS mencuat 29%, sebulan naik 70%, dan 3 bulan melesat 150%. Bahkan dalam 6 bulan terakhir saham BRIS meroket 629%, dahsyat.


Adapun asing pada hari ini masuk ke saham BRIS Rp 14,22 miliar, dan sepekan asing belanja Rp 73 miliar.

Sentimen positif bagi BRIS datang ketika nama baru ditetapkan yakni Bank Syariah Indonesia. Bank ini juga menegaskan akan terus mendukung Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) seperti yang sudah dilakukan selama ini. Proyeksi dana yang akan disalurkan mencapai Rp 53,83 triliun.

Adapun persentase penyaluran bagi UMKM dari tiga bank syariah yang akan merger ini diproyeksikan akan mencapai 23% pada Desember 2021 dari total pembiayaan.

Dirut BRISyariah Ngatari mengatakan, dalam Rancangan Penggabungan yang sudah dipublikasikan, komitmen dukungan Bank Hasil Penggabungan (BHP) kepada UMKM telah jelas tercantum.

“Bank Hasil Penggabungan akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM di antaranya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia,” ujar Ngatari yang juga Anggota Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, dalam siaran pers, Kamis (17/12/2020).

Bank Syariah Indonesia telah merumuskan strategi khusus untuk mendukung UMKM Indonesia yang berfokus pada pertumbuhan yang sehat di sektor UKM dan Mitkro dengan memanfaatkan teknologi digital demi mewujudkan mandat Pemerintah Indonesia dalam memajukan UMKM Indonesia.

Proyeksi persentase penyaluran pembiayaan untuk UMKM dari tiga bank syariah yang akan bergabung hingga akhir Desember tahun depan sebesar 23%.

Selain itu, Bank Hasil Penggabungan siap untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), serta organisasi kemasyarakatan lainnya untuk memajukan pelaku UMKM di Tanah Air.

“Dukungan bagi UMKM tidak akan kendor, karena merekalah tulang punggung perekonomian nasional. Bank Syariah Indonesia akan menjadi bagian ekosistem dan sinergi pemberdayaan pelaku usaha UMKM, mulai dari fase pemberdayaan hingga penyaluran KUR Syariah.”

“Untuk menjangkau pelaku UMKM hingga pelosok, kami akan bekerjasama dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan di seluruh Indonesia untuk mencapai proyeksi dana disalurkan untuk UMKM mencapai Rp 53,83 triliun,” tuturnya.

Selain itu, Bank Syariah Indonesia juga menargetkan bisa memasarkan sukuk dari perusahaan dalam negeri, terutama BUMN, di Timur Tengah.

Ketua Project Management Office (PMO) bank syariah BUMN Hery Gunardi mengungkapkan bank syariah ini nantinya ditargetkan bisa merambah pasar keuangan syariah global.

“Yang belum ada juga market sukuk global, terutama di middle east karena potensi besar,” kata Hery yang juga ditetapkan menjadi Dirut Bank Syariah Indonesia ini, dalam konferensi pers virtual, Rabu (16/12/2020).

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)