Sedap! Awal Tahun, Harga CPO Naik ke Rekor Tertinggi 10 Tahun

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia tembus rekor tertinggi barunya pada perdagangan awal tahun ini, Senin (4/1/2020). Harga kontrak futures (berjangka) yang aktif ditransaksikan tersebut hampir menyentuh level tertinggi dalam 10 tahun. 

Harga kontrak CPO Maret 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange tersebut naik 86 ringgit atau menguat 2,39% dibanding penutupan pekan lalu. Harga CPO ditutup di RM 3.689/ton pada sesi istirahat siang ini. Kini harga CPO sudah ke level tertingginya sejak Maret 2011.


Kenaikan harga CPO mengekor harga minyak nabati lainnya terutama minyak kedelai. Harga minyak kedelai mengalami kenaikan 2% di Bursa Komoditas Dalian dan 1,15% di Chicago Board of Trade.

Apresiasi harga minyak kedelai dipicu oleh terganggunya pasokan Argentina dan kondisi cuaca kering di Amerika Selatan. Di saat yang bersamaan permintaan dari China juga sedang meningkat.

Jelang tahun baru Imlek harga daging babi di China mengalami inflasi. Hal tersebut membuat sektor peternakan babi di China bergeliat setelah selama ini diterpa wabah African Swine Flu. China mengimpor berbagai kedelai dengan semua kualitas. Salah satunya digunakan untuk pakan ternak babi.

Faktor lain yang membuat harga CPO naik hari ini adalah prospek La Nina yang akan berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini. La Nina biasanya mengakibatkan hujan deras. Konsekuensinya adalah banjir.

Ketika banjir terjadi, maka rantai pasok CPO akan ikut terganggu sehingga membuat harganya naik. Namun kenaikan harga CPO yang tinggi juga harus diwaspadai. Pasalnya peningkatan tersebut akan membuat konsumennya terutama dari India untuk beralih ke jenis minyak nabati lainnya.

Di samping itu di India minyak sawit lebih banyak digunakan untuk industri hotel, restoran dan katering (horeka) ketimbang digunakan langsung untuk memasak di sektor rumah tangga. 

Kasus kumulatif Covid-19 yang sudah tembus 10 juta orang di India membuat prospek industri horeka masih lesu. Kombinasi tingginya harga dan lesunya bisnis horeka di India berpotensi membuat harga CPO terkoreksi.

Hal tersebut juga disampaikan oleh lembaga pemeringkat global Fitch Ratings dalam laporannya. Fitch menyebut bahwa harga CPO berpotensi terkoreksi di tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)