Segudang Insentif dan Harga Naik, Saham Batu Bara Melesat

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham dari sektor pertambangan diburu investor saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (16/12/20) sukses terbang tinggi 1,02%. Hal ini ditunjukkan oleh indeks pertambangan yang melesat kencang bahkan melebihi apresiasi IHSG di angka 2,02%.

Sentimen positif seputar saham-saham pertambangan masih datang dari komoditasnya batu bara yang terus melesat pasca diserang pandemi virus corona serta insentif dari pemerintah terkait peningkatan nilai tambah batu bara khususnya gasifikasi batu bara.

Simak tabel kenaikan harga saham batu bara berikut ini:


Terpantau data perdagangan mencatat dari seluruh emiten batu bara raksasa semuanya berhasil menghijau dan hanya satu yang stagnan.

Kenaikan sendiri dipimpin oleh emiten batu bara Pelat Merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang berhasil melesat 2,61% ke level harga Rp 3.150/unit.

Di posisi kedua muncul emiten PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang juga menghijau 1,63%. Emiten yang sahamnya dimiliki oleh Garibaldi Thohir ini diperdagangkan di harga Rp 1.555/unit.

Sedangkan terpantau hanya emiten batu bara PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) yang stagnan di level Rp 430/unit.

Sebelumnya, pemerintah disebutkan akan memberikan insentif bagi perusahaan yang serius mengembangkan proyek gasifikasi batu bara yakni insentif tax holiday, royalti 0%, hingga pembebasan PPN jasa dan PPN EPC.

Pemerintah mengungkapkan kemungkinan bakal memberikan subsidi untuk produk Dimethyl Ether (DME) hasil gasifikasi batu bara, di luar subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang telah ada saat ini bila proyek gasifikasi batu bara ini beroperasi nantinya.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto dalam webinar ‘Indonesia Mining Outlook 2021’ melalui YouTube Tambang TV, Selasa, (15/12/2020).

Dia mengatakan, kemungkinan pemberian subsidi ini dilakukan pada saat awal pabrik gasifikasi beroperasi, terutama bila harga LPG dunia masih rendah di bawah US$ 500 per ton.

“Jadi, mungkin di awal-awal ketika pabrik ini bisa beroperasi, mungkin akan ada tambahan subsidi yang harus diberikan, on top of value subsidi yang diberikan kepada LPG. Subsidi jadi lebih besar, tapi kita lihat ini dinamika, bisa berubah signifikan. Bisa saja kalau kemudian harga minyak meningkat secara signifikan,” paparnya dalam acara tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/hps)