Sentimen Vaksin Moderna Masih Hangat, Harga SBN Menguat Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada Rabu (18/11/2020) mayoritas ditutup menguat, mengikuti pasar saham Asia maupun domestik yang juga mayoritas ditutup di zona hijau pada hari ini.

Mayoritas SBN hari ini ramai dikoleksi oleh investor, kecuali SBN tenor 1 tahun yang cenderung dilepas oleh investor. Dilihat dari imbal hasilnya (yield), hampir semua SBN mengalami pelemahan yield, namun tidak untuk yield SBN tenor 1 tahun yang naik 7,1 basis poin ke level 4,001%.

Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan acuan yield obligasi negara kembali turun 2,6 basis poin ke level 6,181% pada hari ini. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga pelemahan yield menunjukkan harga obligasi yang menguat. Demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.


Harga SBN masih mengalami penguatan karena pelaku pasar masih merespons positif terkait kabar baik dari vaksin besutan Moderna yang sukses dalam uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya pada Senin (16/11/2020), Moderna merilis hasil uji coba tahap ketiga yang menunjukkan bahwa vaksin besutannya memiliki tingkat efikasi atau persentase sukarelawan penerima vaksin yang sukses membentuk antibodi hingga 94,5%.

Kesuksesan tersebut mengamplifikasi optimisme pekan sebelumnya ketika perusahaan farmasi AS Pfizer dan perusahaan Jerman BioNTech mengumumkan tingkat efikasi vaksin mereka mencapai lebih dari 90%.

Kabar baik dari vaksin Covid-19 yang masih datang hingga hari ini berdampingan dengan kabar negatif dari kasus virus Covid-19, di mana AS kembali catatkan rekor kasus terjangkit virus Covid-19.

Dalam sepekan terakhir, AS mencatatkan 1 juta pasien baru virus Covid-19 sehingga total infeksi secara nasional menembus 11 juta, dengan 70.000 di antaranya harus dirawat di rumah sakit.

Di Eropa, gelombang kedua kenaikan kasus Covid juga dilaporkan melambat, berkat pengetatan pembatasan sosial di Prancis, Belanda, dan Belgia. Kasus di Jerman, Spanyol, dan Italia kian stabil, sebagaimana dilaporkan CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)