Simak 8 Kabar Pasar Ini, Bisa Jadi Petunjuk Cari Cuan

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di teritori positif pada perdagangan Rabu kemarin, 2 Desember 2020 dengan penguatan sebesar 1,55% ke level 5.813,98 poin. Kesiapan edar vaksin Covid-19 yang diproduksi Pfizer dan Moderna yang dinilai oleh Agensi Obat-obatan Uni Eropa menjadi katalis positif yang direspons pelaku pasar.

Data perdagangan mencatat, nilai transaksi mencapai Rp 16,40 triliun dengan frekuensi sebanyak 1,20 juta kali. Adapun, pelaku pasar asing masih mencatatkan jual bersih senilai Rp 155,34 miliar.

Saham-saham yang banyak ditransaksikan kemarin antara lain, PT United Tractors Tbk (UNTR), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Astra International Tbk (ASII) hingga PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).


Sebelum memulai perdagangan Kamis ini, (3/12/2020), cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia :

1. Ekuitas Jiwasraya Minus Rp 38 T, DPR: Percepat Restrukturisasi

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berharap Pemerintah Indonesia segera mempercepat program penyelamatan polis PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dengan menggunakan skema restrukturisasi.

Ketua Panitia Kerja Jiwasraya Komisi VI DPR, Arya Bima menjelaskan, restrukturisasi bukan hanya akan memberi kepastian bagi nasabah, namun juga dapat mencegah laju defisit ekuitas yang dialami Jiwasraya.

“Masalah ini perlu diselesaikan segara sebelum nominal defisitnya semakin besar, semakin bengkak,” kata Ketua Panja Jiwasraya Komisi VI DPR, Aria Bima, dalam rapat bersama Menteri BUMN, Senin (30/11/2020).

Aria Bima mengungkapkan, negatif ekuitas ini lantaran disebabkan tunggakan polis dengan pembayaran bunga berbunga, sehingga makin lama penundaan restrukturisasi, tentu makin besar nilai liabilitas Jiwasraya.

2. Ambisi Wamen Tiko: Suku Bunga Perbankan di Bawah 10% di 2021

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menilai penurunan suku bunga kredit perbankan di bawah 10% bukanlah sesuatu yang mustahil. Penilaian itu disampaikan Tiko, sapaan akrab Kartika, dalam webinar BUMN media talk dengan topik “Dukungan Perbankan untuk Ekonomi di Masa Pandemi” yang dilaksanakan pada Rabu (2/12/2020).

Menurut Tiko, ada sisi positif dari sudut pandang stabilitas perbankan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. Sebab, loan to deposit ratio dan loan to funding ratio menurun signifikan. Per September 2020, LDR berada pada level 83,2%. Sedangkan LFR berada pada level 83,5% per Agustus 2020.

“Kita pernah sedikit over heating waktu itu di sekitar tahun lalu ya pernah sampai dengan 90% LDR nasional dan itu membuat waktu itu situasi market sangat ketat dan ada risiko ada bank-bank yang akan berat karena susah mengakses likuiditas,” ujar Tiko.

“Nah sekarang ini dengan situasi likuditas mengendur, LDR, situasi perbankan sekarang tenang, walaupun memang tantangannya adalah menangani restrukturisasi kredit yang terdampak Covid-19,” lanjutnya.

3. Jelang Tutup Tahun, 11 Perusahaan Antre IPO di Bursa RI

Bursa Efek Indonesia menyatakan sampai dengan 1 Desember 2020 terdapat 20 perusahaan yang berencana melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering/IPO.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, dari jumlah tersebut, ada 11 perusahaan yang akan mencatatkan saham perdana pada Desember tahun ini.

Nyoman merinci, dari jumlah tersebut, ada 3 perusahaan dengan aset skala menengah, yakni dengan aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. 8 perusahaan lainnya dengan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar.

BEI mencatat, ada sebanyak 3 perusahaan dari sektor perdagangan, jasa dan investasi. Dua perusahaan dari sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan.

Masing-masing 2 perusahaan lainnya di sektor industri barang konsumsi dan perkebunan. Lainnya perusahaan di sektor aneka industri dan sektor keuangan.

4. Pan Brothers Terbitkan Global Bond di Singapura Rp 4,9 T

PT Pan Brothers Tbk (PBRX) akan menerbitkan obligasi global (global bond) sebanyak-banyaknya US$ 350 juta (Rp 4,9 triliun, asumsi kurs Rp 14.000/US$). Obligasi ini diterbitkan di Singapore Exchange Securities Trading Limited (SGX-ST).

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan perusahaan, dana hasil obligasi ini akan digunakan untuk keperluan pembiayaan kembali (refinancing) utang sindikasi perusahaan dengan limit fasilitas sebesar US$ 138,50 juta dan global bond senilai US$ 171,07 juta.

Sisa dana ini juga akan digunakan sebagai pinjaman kepada anak usaha perusahaan untuk modal kerja sehingga bisa meningkatkan kemampuan dalam melakukan ekspansi bisnis dan keperluan korporasi lainnya.

Langkah ini diharapkan akan meningkatkan nilai aset dan meningkatkan keberlanjutan profitabilitas perusahaan dan anak usaha di masa yang akan datang.