Soal ‘Merger’ BRI-PNM-Pegadaian, Bank BRI Buka Suara

Jakarta, CNBC Indonesia – Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memberikan penjelasan terkait dengan informasi kabar dari Menteri BUMN Erick Thohir soal penggabungan bisnis UMKM BRI, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero)/PNM.

Corporate Secretary BBRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan perseroan selalu merencanakan pertumbuhan bisnis, baik secara organik maupun non organik.

Rencana ini memang sesuai dengan Rencana Bisnis Bank yang sejalan dengan fokus bisnis perseroan.


“Dalam hal ini diperlukan aksi korporasi untuk mewujudkan rencana bisnis tersebut, perseroan sebagai perusahaan terbuka akan memenuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku,” katanya, dalam surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), tanpa menyebutkan detail rencana yang dimaksud.

Saham BBRI dalam sebulan terakhir perdagangan sudah naik 4,73% dan 3 bulan naik 43% di level Rp 4.210/saham, kendati ditutup minus 1,64% pada perdagangan Senin kemarin (21/12).

Meski demikian, sebulan terakhir, saham BBRI sudah diborong asing Rp 255,04 miliar di semua pasar di tengah sentimen ‘merger’ bisnis UMKM tiga BUMN tersebut.

Dalam pengumuman di BEI, BRI sudah mengumumkan kepada Pemegang Saham bahwa Bank BRI akan diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 21 Januari 2021. Rapat dilaksanakan antara lain karena permintaan Dewan Komisaris.

Pada pekan lalu (16/12), Menteri Erick Thohir mengungkapkan beberapa alasan pentingnya menggabungkan data UMKM, termasuk yang dimiliki oleh BBRI, Pegadaian, dan PNM.

Erick mengatakan tujuan sinergi tersebut tentunya untuk mendorong pengusaha kecil untuk naik kelas, UMKM yang semula tidak bankable bisa masuk kategori layak mendapatkan kredit perbankan.

“Pembiayaan ultra mikro juga sama, menggabungkan satu data UMKM dengan upaya kita, pengusaha kecil naik kelas. Ultra mikro yang tadinya tidak bankable, naik kelas jadi bankable. Yang tadinya pinjaman Rp 2 juta karena track record bagus akhirnya mendapatkan pinjaman Rp 50 juta. Hal-hal ini kita gabungkan dan efisienkan,” kata Erick dalam Indonesia Digital Conference 2020, Rabu (16/12/2020).

Selain itu, bunga kredit juga menjadi alasan Erick dengan adanya sinergi BRI-PNM-Pegadaian.

“Salah satu yang kita tekankan di sini adalah bunga. Jangan sampai [pengusaha] yang kecil dapat bunga mahal, yang besar dapat bunga murah karena struktur keuangannya. Contoh, PNM ketika menerbitkan untuk kebutuhan dananya mungkin [kasih] 9 persen, tapi BRI dengan market besar pinjamannya 3 persen.”

Sebab itu, diharapkan ke depan Bank BRI yang berskala besar bisa membantu kapasitas PNM, sehingga nasabah dari pengusaha usaha kecil mendapatkan bunga atau sistem bagi hasil yang baik.

“Jangan kita ini berat ke yang kaya-kaya, tapi yang miskin pembiayaan yang lebih mahal.”

Sebelumnya, dalam forum CNBC Indonesia Award 2020 10 Desember lalu, Erick Thohir menyatakan ada 2 aksi korporasi BUMN pada 2021. Aksi korporasi ini bisa menjadi merupakan yang terbesar sepanjang sejarah BUMN di Indonesia.

“Tahun 2021 saya pastikan ada 2 Corporate Action besar,” kata Erick yang mendapatkan CNBC Indonesia Award sebagai Most Influential Minister.”

“Satu, adalah penggabungan bank syariah,” kata Erick.

Adapun satu lagi yakni penggabungan sektor usaha mikro yang berada BBRI, PNM, dan Pegadaian.

“Agar ada database riil UMKM. Kita harap dengan penggabungan satu data ada pengusaha naik kelas dari yang kecil, karena dari krisis 1998 kita ingat yang besar padahal usaha kecil yang tingkat NPL 0,1% sangat terdampak Covid-19,” terangnya.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)