Sri Mulyani Sebut Pasar SUN Mulai Adem, Cek Faktanya Gengs!

Jakarta, CNBC Indonesia – Persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia semakin membaik, ditandai dengan menurunnya credit default swap (CDS) bertenor 5 tahun menjadi 68,92 pada Kamis (7/1/2021) pukul 09:45 WIB.

Saat ini, level CDS Indonesia berada di level rendah dan hampir mendekati level awal tahun 2020.

Namun, jika dibandingkan dengan level CDS pada perdagangan awal pekan ini, level CDS pada hari ini masih lebih tinggi, di mana CDS per Senin (4/1/2021) berada di level 67,28.


CDS adalah kontrak derivatif swap di mana pembeli melakukan pembayaran ke penjual atas penutupan risiko gagal bayar (default) debitornya. Artinya, dia mendapatkan pembayaran bila terjadi gagal bayar atau kejadian lain yang mengancam pembayaran kredit yang ada.

Biasanya, ketika CDS turun maka harga SBN akan naik dan tentunya yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), dalam hal ini Surat Utang Negara (SUN) akan turun.

Yield SBN tenor 5 tahun per Kamis (7/1/2021) pukul 11:40 berada di level 5,239% atau turun 6,9 basis poin (bp). Sementara itu, yield SBN acuan bertenor 10 tahun per Kamis (7/1/2021) pukul 11:40 turun 5,3 bp ke 6,01%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Besaran 100 bp setara dengan 1%.

Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membawa beberapa kabar baik bagi pasar obligasi di Tanah Air. Menkeu menegaskan imbal hasil SUN kian membaik.

“CDS [credit default swap] menurun tajam, setelah melonjak tinggi pada April. Ini sudah normal seperti Januari 2020,” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers postur APBN 2021, secara virtual, Rabu (6/1/2020).

Adapun terkait dengan yield SBN, khususnya SUN acuan tenor 10 tahun, Menkeu mengatakan imbal hasil SUN sudah mengalami perbaikan.

Yield surat utang terjadi tren perbaikan. Pada April lalu, kinerja SBN mulai stabil dan membaik. Benchmark 10 tahun telah turun hampir 30 persen poin dari titik tertinggi pada 24 Maret lalu. Koreksi 30 persen cukup signifikan. Kepemilikan asing masih 25 persen,” katanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)