SWF Jokowi, Saran Nabi Yusuf dan Jalan Terbaik Kelarin Utang RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia saat ini sedang menyiapkan pembentukan dana abadi negara alias Sovereign Wealth Fund (SWF) dengan nama resmi Indonesia Investment Authority (INA).

Bila tak ada aral melintang, lembaga ini akan beroperasi mulai triwulan kedua tahun depan. Lembaga ini dinilai akan menjadi jalan keluar bagi Indonesia dalam menyelesaikan utang negara.

Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, mengatakan Indonesia sangat membutuhkan SWF karena, saat ini Indonesia sudah sangat bergantung dengan utang dengan defisit fiskal yang mencapai yang 6,3%.


Dengan begitu, penting bagi RI untuk mengundang investor asing lewat jalur ekuitas (penyertaan saham) yang ditopang UU Cipta Kerja (Omnibus Law), sehingga diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan utang.

Dalam tulisan terbaru Budi Hikmat bertajuk “Sovereign Wealth Fund:Inisiatif Pengelolaan Asset Untuk Kemakmuran Bangsa,” Budi menjelaskan bahwa pemikiran mengenai pengelolaan aset negara ini, sebetulnya sudah jauh ada sejak zaman Nabi Yusuf.

Pada masa itu, Nabi Yusuf memberi saran kepada raja yang kemudian melantiknya sebagai pengelola aset negara, yang akhirnya mampu menyelamatkan Bangsa Mesir dari bencana kelaparan.

Pada dasarnya, kata Budi, ada tiga saran Nabi Yusuf yang dimuat dalam QS 12:47 (Al Quran Surat 12 ayat ke 47), “Hendaklah kalian bercocok tanam selama tujuh tahun secara berkelanjutan. Maka apa yang kalian panen, tetaplah dalam tangkainya. Kecuali sedikit untuk kalian makan”.

Menurut Budi, saran ini tidak hanya melandasi konstelasi kebijakan makroekonomi terbaik untuk mengantisipasi krisis namun juga sebagai dasar intertemporal personal investing.

Fokus kebijakan ekonomi bertumpu pada, pertama, sisi produksi terutama melalui penguatan teknologi pertanian guna meningkatkan produktivitas.

Kedua, penguasaan teknologi pascapanen terutama melalui penguatan industri manufaktur agar limpahan panen dalam kualitas terbaik dapat bertahan lama untuk memenangkan pasar ekspor.

Saran terakhir Nabi Yusuf di atas identik dengan pengendalian konsumsi domestik yang memungkinkan limpahan panen dimanfaatkan untuk keberlanjutan produksi selain untuk ekspor.

“Semestinya penerapan saran Nabi Yusuf memampukan Indonesia untuk mengatasi defisit neraca berjalan yang hakikatnya mencerminkan karakter yang kurang produktif, kurang kompetitif selain mau berhemat,” kata dia, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (22/12/2020).

Atas dasar itulah, menurutnya, persoalan negara mengelola berbagai aset sumber daya untuk kemakmuran bangsa ini, senafas dengan terminologi modern SWF yang sedang dibentuk oleh pemerintah Joko Widodo (Jokowi).

NEXT: Bagaimana Peluang SWF Saat Banjir Lukuiditas Pascapandemi?