Terungkap! Diam-diam Asing Pindah ke Saham Tambang, Kenapa?

Jakarta, CNBC Indonesia November menjadi bulan yang manis bagi pasar modal global, tak terkecuali pasar modal dalam negeri. Bayangkan saja dalam sebulan indeks acuan bursa lokal yakni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat hingga 9,44%.

Di tengah kenaikan IHSG sendiri muncul satu sektor yang kenaikanya jauh melebihi IHSG dan sektor-sektor lain, bisa dibilang sektor inilah yang menjadi biang kerok melesatnya IHSG.

Adalah sektor pertambangan yang indeks sektoralnya berhasil terbang hampir dua kali lipat lebih besar dari IHSG di angka 18,06% bahkan jauh lebih tinggi dibanding indeks sektoral lain.


Bahkan kenaikan sektor tambang sudah terjadi sejak awal Oktober silam, apabila ditarik dari awal bulan kesepuluh hingga hari ini maka kenaikan sektor tambang sudah mencapai 31,14% angka yang tentunya sangat fantastis.

Kenaikan saham di sektor tambang tentunya tidak lepas dari investor asing yang terus-terusan memborong dan mengkoleksi saham di sektor ini. Simak tabel berikut.

Tercatat seluruh saham pertambangan non batu bara raksasa yang melantai di BEI semuanya dikoleksi asing di semua pasar pada sebulan terakhir.

Pembelian terbesar sendiri dilakukan asing di saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan net foreign buy sebesar Rp 283,93 miliar yang menyebabkan saham MDKA melesat 2,83% sejak awal November. Bahkan apabila ditarik hingga awal Oktober, kenaikan MDKA sangatlah fantastis yakni23,53%.

Tidak hanya diborong asing, Saham-saham tersebut juga berhasil melesat tinggi catat saja saham-saham pertambangan ini mampu melesat kencang belasan hingga puluhan persen dalam sebulan terakhir.

Adalah PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) yang memimpin kenaikan saham pertambangan ini dalam sebulan terakhir dengan apresiasi sebesar 43,14%, menyusul di posisi kedua dengan kenaikan yang tidak kalah tinggi adalah PT Timah Tbk (TINS) yang terbang 42,44%.

Bahkan apabila ditarik dari awal Oktober, maka kinerja saham-saham tambang ini akan semakin fantastis dipimpin oleh TINS dengan kenaikan 81,48% dan di posisi kedua muncul emiten Pelat Merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang loncat 78,01%.

Melihat aksi beli asing yang begitu masif di saham pertambangan tentu saja memicu tanda tanya para pelaku pasar, mengapa investor asing begitu getol mengkoleksi saham-saham ini ?

Usut punya usut ternyata investor asing mulai tertarik dengan saham pertambangan yang melantai di dalam negeri karena adanya rencana akan dibentuknya Holding Indonesian Battery dimana tiga emiten (ANTM, INCO, dan TINS) akan memegang peranan penting di holding ini.

Selain itu prospek komoditas timah dan nikel yang sangat cerah juga menjadi alasan tersendiri pembelian asing di saham-saham ini. Hal ini karena kedua komoditas ini merupakan salah satu komponen penting baterai terutama baterai lithium ion yang menjadi sumber energi mobil listrik seperti Tesla yang digadang-gadang akan menjadi mobil masa depan dengan jargon green energy menggantikan mobil bertenaga bensin.

Sejatinya sebelum adanya rencana Holding Indonesian Battery ini investor asing kurang tertarik terhadap kelima saham pertambangan lokal ini karena kinerja saham perusahaan yang cenderung berfluktuatif.

Catat saja kepemilikan asing di saham non warkat alias scripless per Oktober 2020 kalah jauh dibandingkan dengan investor lokal. Di saham ANTM kepemilikan asing hanyalah hanya sebesar 20,67% dibandingkan dengan lokal yang memegang 79,33%.

Selanjutnya kepemilikan asing di saham TINS sedikit lebih baik yakni 23,88% dibandingkan dengan kepemilikan lokal sebesar 76,12%. Untuk kepemilikan asing di saham publik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sedikit lebih baik meskipun memang masih di dominasi oleh investor lokal yakni kepemilikan foreign sebesar 40,14% dibandingkan dengan lokal yang menguasai sebesar 59,86%.

Kondisi terbaik terjadi pada kepemilikan asing di saham publik MDKA dengan kepemilikan asing dan lokal yang hampir seimbang meski tentunya masih didominasi oleh investor lokal yakni. Tercatat investor asing memiliki saham publik MDKA sebesar 44,47% dibandingkan dengan investor lokal yang memegang 55,53%.

Sedangkan ketimpangan paling parah terjadi di saham NIKL dengan kepemilikan asing di untuk kategori saham publik hanyalah 3,22% dibandingkan dengan investor lokal yang merangkul hingga 96,78%.

Kinerja keuangan kuartalan perseroan yang terkadang merugi biasanya menjadi pertimbangan tersendiri bagi para fund manager maupun investor asing dalam berinvestasi di saham-saham tersebut. Para investor raksasa ini pastinya tidak mau nilai investasinya tiba-tiba anjlok karena performa kuartalan yang buruk dan sulit diprediksi.

Tercatat pada 15 kuartal terakhir, MDKA melaporkan keuanganya merah sebanyak 2 kuartal, ANTM mencetak rugi bersih sebanyak 3 kuartal,TINS mencetak rugi bersih sebanyak 4 kuartal dan membukukan rugi bersih di tahun 2019, INCO yang mencetak rugi bersih sebanyak 4 kuartal dan membukukan rugi bersih di tahun 2017, dan terakhir NIKL membukukan rugi bersih pada 6 kuartal dan terpaksa merugi pada tahun 2018 dan 2020 ini.

Angin-anginanya kinerja perusahaam tambang secara kuartalan terjadi karena fluktuasi harga komoditas meskipun biasanya secara tahunan perusahaan-perusahaan ini masih mampu membukukan untung bersih.

Dengan adanya Holding Indonesian Battery ini diharapkan kinerja perusahaan tersebut bisa menjadi konsisten membukukan untung bersih setiap kuartalnya bak perbankan-perbankan raksasa yang menjadi primadona investor asing. Hal inilah yang menyebabkan saham tambang mulai dilirik investor asing.

Sehingga mengingat proyek pabrik baterai kendaraan listrik ini diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar (Rp 296 triliun, asumsi kurs Rp 14.800/US$) dimana hal ini tentu saja akan memperkuat kinerja keuangan perusahaan terkait.

Apalagi harga nickel yang kedepanya diprediksi akan melesat dari level saat ini yakni US$ 15.950/metrik ton menembus level US$ 20.000/metrik ton menurut Goldman Sachs dengan permintaan yang akan semakin tinggi maka bisa dipastikan kinerja saham-saham tambang ini bisa semakin konsisten kedepanya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)