Waduh…Saham Indosat Disuspensi Bursa, Efek Isu Merger Tri?

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham PT Indosat Tbk (ISAT), pada perdagangan Senin ini (28/12/2020) sesi I.

“Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham ISAT, dalam rangka cooling down, Bursa Efek Indonesia memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham ISAT pada perdagangan 28 Desember 2020,” tulis pengumuman BEI, Senin (28/12).

Penghentian sementara perdagangan saham ISAT tersebut dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham ISAT.


“Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan,” tegas BEI.

Data BEI mencatat saham ISAT melesat 43% sepekan terakhir perdagangan, dan sebulan terakhir meroket 146% dengan kapitalisasi pasar Rp 30,70 triliun.

Sebelumnya kabar terbaru ISAT yakni isu adanya merger Indosat Ooredoo dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri). Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate sudah memberikan dukungan atas kabar tersebut.

Menurut Menkominfo, dukungan terjadinya konsolidasi antaroperator seluler di Indonesia untuk memberikan dampak efisiensi dan peningkatan nilai tambah pada industri.

“Untuk efisiensi dan peningkatan nilai tambah pada industri telepon selular, maka tentu kami menyambut baik langkah konsolidasi yang dilakukan operator seluler secara business to business,” ujar Johnny, dalam pesan singkatnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (24/12/2020).

“Konsolidasi juga diperlukan untuk mendukung perusahaan telekomunikasi dalam mempersiapkan investasi initial deployment 5G di Indonesia,” ucap mantan Komisaris PT Indonesia Air Asia ini.

Menkominfo mengatakan bahwa di Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law, juga dijelaskan bahwa sektor Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran, membuka ruang kerja sama yang lebih baik (ekonomis dan efisien) bagi industri telco dan penyiaran.

Terkait dengan kabar merger ini, manajemen ISAT hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi, kendati CNBC Indonesia sudah mencoba melakukan konfirmasi sejak awal pekan ini.

Adapun Wakil Direktur Utama Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah saat dikonfirmasi mengenai kabar tersebut tak memberikan gambaran lebih rinci, termasuk apakah sudah ada pembicaraan dengan Indosat.

“Kami dari manajemen belum bisa memberi info mengenai hal ini. Sebaiknya ditanyakan kepada CKH atau Ooredoo,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (22/12/2020).

Seperti diberitakan Bloomberg, raksasa keuangan asal Hong Kong, CK Hutchison Holdings Ltd. dikabarkan mendekati kesepakatan dengan Ooredoo QPSC asal Qatar, berkaitan dengan rencana konsolidasi operasi telekomunikasi dua anak usaha mereka di Indonesia.

“CK Hutch sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk menggabungkan bisnis telekomunikasi di Indonesia dengan PT Indosat, kata sumber Bloomberg yang mengetahui rencana ini, dikutip Selasa (22/12/2020).

Seperti diketahui, Hutchison memiliki bisnis operator Tri yakni ke Tri Indonesia, sementara Ooredoo memiliki sekitar 65% saham Indosat yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data laporan keuangan ISAT per September 2020, pemegang saham Seri B ISAT yakni Ooredoo Asia Pte Ltd 65%, Pemerintah RI 14,29%, dan publik 20,71%. Dengan jumlah saham Ooredoo mencapai 3.532.056.600, maka nilai saham dengan memakai harga saham terakhir Rp 5.500 milik Ooredoo senilai Rp 19.43 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)