Warren Buffett Borong Emas, Sinyal Pasar Saham Bakal Crash?

Jakarta, CNBC Indonesia – Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett, yang juga pemilik perusahaan investasi Berkshire Hathaway Inc yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode saham BRK, ternyata getol membelanjakan dana investasinya ke perusahaan energi dan pertambangan emas.

Hal itu terungkap dalam artikel media asal Kanada yang didirikan tahun 1998, The Motley Fool. Informasi itu dikutip The Motley Fool dari keterbukaan informasi kinerja kuartal II-2020 melalui dokumen 13F yang diajukan Berkshire.

Formulir 13F seusai dengan aturan Komisi Sekuritas dan Bursa AS atau The Securities and Exchange Commission (SEC) adalah laporan triwulanan yang harus diajukan oleh semua manajer investasi institusional dengan aset yang dikelola setidaknya US$ 100 juta.


Disebutkan bahwa Warren Buffett membeli lima juta saham tambahan Suncor Energy untuk meningkatkan posisinya di raksasa sektor energi Kanada itu.

Suncor Energy adalah perusahaan asal Kanada yang bergerak di sektor energi. Fokus utama Suncor Energy adalah industri pertambangan minyak dan gas.

Pengajuan 13F tersebut juga mengungkapkan bahwa Buffett menjual seluruh sahamnya di Restaurant Brands International, pemilik merek waralaba Burger King.

Terakhir, investor kawakan yang dijuluki Oracle of Omaha (peramal dari Omaha) itu membuat langkah mengejutkan dengan berinvestasi besar-besaran di Barrick Gold. Barrick tercatat di Bursa Toronto dengan kode ABX dan NYSE dengan kode GOLD.

Barrick Gold Corporation adalah perusahaan pertambangan yang memproduksi emas dan tembaga dengan 16 lokasi operasi di 13 negara, berkantor pusat di Toronto, Ontario, Kanada.

Buffett Membeli Emas

Meskipun ketiga langkah investasi tersebut mengejutkan investor, keputusan Buffett untuk bertaruh pada emas adalah yang paling membingungkan bagi investor yang mengikuti karier investasinya dengan cermat.

Bagi mereka yang tahu, Warren Buffett telah menikmati banyak kesuksesan sepanjang kariernya selama beberapa dekade tanpa masuk ke saham logam mulia yang langka ini.

Dia punya kesan negatif terhadap emas selama ini. Buffett merasa emas tidak memiliki nilai riil selain dimanfaatkan hanya untuk industri perhiasan. Sampai akhirnya dia membeli saham Barrick, Buffett tidak pernah berinvestasi di perusahaan tambang emas atau emas sebelumnya.

Namun, emas sangat dianggap sebagai aset safe-haven (aset aman investasi) di seluruh dunia.

Tampaknya investor legendaris ini ‘semacam menelan ludahnya sendiri’ terhadap emas, karena itu memang keputusan paling praktis yang harus dibuat.

Menurut Adam Othman, penulis artikel tersebut dari The Motley Fool, Buffett mungkin mengharapkan kehancuran pasar saham yang besar, dan bertaruh pada investasi di emas menjadi sangat ideal untuk memanfaatkan situasi yang terbaik.

Investasi Emas Solid

Sejauh ini, investasinya tampaknya membuahkan hasil bagi Oracle Omaha ini.

Harga emas telah melonjak karena turbulensi di pasar saham. Valuasi saham emiten penambang emas sudah mencapai level yang lebih tinggi, dan Barrick Gold mengungguli harga emas dan saham pertambangan emas lainnya.

Banyak yang percaya bahwa emas masih bisa terus reli. Harga emas yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan pendapatan penambang emas untuk beberapa kuartal.

Barrick Gold melaporkan laba penyesuaian mencapai US$ 726 juta atau setara Rp 10,16 triliun (kurs Rp 14.000/US$), kenaikan yang luar biasa dari kuartal sebelumnya, atau naik 78% dari tahun ke tahun (year on year). Kinerja penambang emas ini melampaui ekspektasi analis yakni hanya naik 25%.

Barrick adalah salah satu penambang emas terbesar di dunia. Perusahaan ini juga memiliki salah satu operasi penambangan emas paling efisien di industri penambangan emas.

Jadi, masuk akal jika Warren Buffett memutuskan untuk berinvestasi di saham emiten emas.

Dia mungkin masih tidak menyukai logam mulia nan langka yang mendorong keuntungan Barrick. Namun, fundamental Barrick begitu kuat, dan memiliki neraca yang kuat yang menjadikannya investasi yang menarik selama masa-masa sulit ini.

Jelas bahwa Warren Buffett memiliki sikap yang bullish (proyeksikan ada kenaikan) terhadap saham perusahaan penambang emas dan emas saat ini.

Namun, perlu diingat bahwa harga emas merupakan faktor utama dalam berinvestasi di saham emas.

Bermain komoditas bisa berisiko jika ada variabel tak terduga yang terlibat. Harga emas bisa naik nilainya jika terjadi kejatuhan pasar lagi, tetapi bisa turun jika situasinya membaik.

Penurunan harga emas yang drastis menuju level pertengahan siklus dapat membuat investor Barrick Gold mengalami kerugian besar. Dengan harga hampir menyentuh US$ 2.000 per troy ons, banyak investor emas percaya bahwa harga emas saat ini sangat tinggi secara tidak berkelanjutan.

Jika ada perkembangan positif dengan pandemi global, itu bisa meningkatkan perekonomian secara keseluruhan. Akibatnya bisa jadi penurunan harga, dan itu sudah terjadi.

Data terakhir mencatat, gara-gara ada vaksin corona, harga emas masih belum nanjak di atas US$ 1.900/troy ons. Data Kitco mencatat, pada Senin sore (23/11), harga emas spot berada di level US$ 1.868/troy ons.

Investasi Warren Buffett di Barrick tidak diragukan lagi menginspirasi kepercayaan investor terhadap kinerja penambang emas dan emas seperti Barrick.

Namun, penulis di The Motley Fool itu menyarankan agar berhati-hati dengan berapa banyak investor membenamkan dananya jika memang memilih untuk mengikuti tips investasi Oracle of Omaha.

Adapun sang penulis, Adam Othman, mengklaim dia tidak memiliki posisi di salah satu saham yang disebutkan. Namun The Motley Fool memiliki saham dan merekomendasikan saham Berkshire Hathaway. The Motley Fool juga merekomendasikan saham Restaurant Brands International Inc.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)